Ahmad Dhani Menyebut Telah Membentuk Paguyuban Korban Kriminalisasi Rezim

Ahmad Dhani Menyebut Telah Membentuk Paguyuban Korban Kriminalisasi Rezim

rjpkr88newsflash – Ahmad Dhani diskedulkan membacakan nota pembelaan atau pleidoi ini hari. Akan tetapi Dhani akan membacakan pleidoi minggu kedepan sebab masih tetap ingin melakukan perbaikan beberapa point dalam nota pembelaannya, diantaranya masalah dianya yang tidak mengatakan subyek dalam cuitan sebagai masalah ajaran kedengkian.

“Masalah 27 itu sebetulnya kan masalah karet, banyak rekan kita aktivis terkena Masalah 27 itu. Termasuk juga Masalah 28. Jadi yang belumlah ditulis sama kuasa hukum jika jaksa dalam tuntutannya tempo hari tidak mengatakan saya ini lakukan ajaran kedengkian pada siapa. Pada ras, SARA, suku apakah, pada agama apakah, pada ras apakah, pada antargolongan apakah, tidak dijelaskan sama jaksa,” kata Dhani selesai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (10/12/2018).

Dhani juga menyatakan beberapa orang yang dipidana sebab ajaran kedengkian ialah mereka yang pro-oposisi. Dhani menyebutkan sudah membuat satu paguyuban yang berisi korban kriminalisasi rezim.

“Serta barusan tebersit di persidangan saat kuasa hukum membacakan pleidoinya, tebersit ikut pada saya satu point terpenting yang saya tulis barusan yang tidak ada pada tercatat, yakni nyatanya saya butuh terangkan pada hakim jika jangan-jangan UU ITE mengenai ajaran kedengkian ini cuma diperuntukkan pada aktivis yang tidak pro pada rezim. Faktanya semacam itu,” tutur Dhani.

“Bahkan juga kita telah buat group paguyuban korban kriminalisasi rezim Jokowi, kita telah membuat grupnya. Telah membuat grupnya kita, mungkin ada lebih dari 100 (orang). Dari orang yang populer, ustaz, ulama, sampai yang tidak populer, sampai orang yang tidak populer benar-benar yang memberi kritisi pada rezim yang terpidana,” jelas Dhani.

Dhani kembali mempermasalahkan kenapa cuitan yang dia catat pada Maret 2017 itu masuk kelompok ajaran kedengkian. Dhani beralasan yang dia tujuan menjadi ‘pendukung penista agama’ dapat siapapun tiada mengacu pada salah satunya kelompok, contohnya simpatisan Ahok.

“Jadi jika contohnya Ahmad Dhani ajaran kedengkian pada simpatisan Ahok, itu jokes of the year ikut ya. Bermakna simpatisan Ahok mengaku mereka ialah simpatisan penista agama,” tegas Dhani.

“Ya penista agama. Siapapun itu jelas beberapa katanya. ‘Siapa saja simpatisan penista agama ialah bajingan yang butuh diludahi mukanya’. Siapapun itu. Ya mungkin termasuk juga Ahok, kan siapapun. Jadi harusnya pelapor atau saksi lainnya mesti mengaku ‘kamu simpatisan penista agama?’. ‘Ya, saya simpatisan penista agama’. Baru kita dapat bicara. Ini tidak, mereka tidak ada yang mengaku jika mereka simpatisan penista agama begitu,” paparnya.

Awal mulanya, Ahmad Dhani dituntut hukuman 2 tahun penjara dalam masalah ajaran kedengkian. Jaksa penuntut umum (JPU) memandang tindakan Ahmad Dhani dapat menggelisahkan penduduk.

“Dalam masalah ini, menurut hakim, akan memutuskan, mengatakan terdakwa dapat dibuktikan dengan resmi serta memberikan keyakinan sebarkan info untuk sebarkan perasaan kedengkian,” kata jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (26/11).

JPU memandang tindakan Ahmad Dhani bertentangan dengan Masalah 45 huruf A ayat 2 juncto 28 ayat 2 UU Nomer 19 Tahun 2016 jo UU Nomer 11 Tahun 2008 mengenai ITE juncto Masalah 55 ayat 1 KUHP.

“Ke-2, menjatuhkan pidana pada terdakwa Ahmad Dhani Prasetyo dengan pidana penjara saat 2 tahun,” katanya.