Dalam Kampanye Jokowi Menyampaikan Berpolitik Menggunakan Norma dan Tata Krama

Dalam Kampanye Jokowi Menyampaikan Berpolitik Menggunakan Norma dan Tata Krama

rjpkr88newsflash – Calon Presiden (capres) Joko Widodo atau Jokowi mengadakan kampanye terbuka pertamanya di Serang, Banten, Minggu (24/3/2019). Sebelum berkampanye, Jokowi berkampanye terlebih dulu menegur beberapa kiai serta pimpinan Pondok Pesantren (pondok pesantren) Salafiah se-Banten di GOR Maulana Yusuf, Serang.

Waktu di depan beberapa kiai, Jokowi mengemukakan sampai kini sering difitnah, dihina, serta direndahkan habis-habisan. Saat 4,5 tahun paling akhir dihina, dicaci-maki, difitnah-fitnah, dicela habis-habisan, serta direndahkan, Jokowi masih tetap diam bahkan juga tidak menjawab.

Serangan hoaks serta fitnah bukan sekedar dikatakan lewat situs mass media tetapi pula dikatakan door to door (dari pintu ke pintu). Satu diantaranya hoaks yang bukan sekedar diperuntukkan ke Jokowi tetapi pula keluarga ialah dakwaan Jokowi itu hoaks PKI. Walau sebenarnya, momen PKI itu berlangsung pada 1965-1966 waktu Jokowi masih tetap balita.

Jokowi telah minta beberapa orang yang memfitnah dianya dan keluarganya untuk tabayyun. Bahkan juga, jika memang perlu hadir ke Solo untuk mengecheck rumah orangtua sampai cek kakek-nenek Jokowi.

Jejeran fitnah lainnya yang di terima Jokowi seperti hoaks antek asing, hoaks larangan azan, pendidikan agama akan dihapus, sampai hoaks akan melegalkan perkawinan semacam.

“Apa langkah politik semacam ini (hoaks) akan kita lanjutkan? Kita sebagian besar muslim penuh etika agama, tata krama serta norma. Janganlah sebab masalah politik, triknya janganlah seperti barusan (menebar hoaks), semua langkah dihalalkan,” kata Jokowi dalam info tercatat.

Imbauan Jokowi untuk menantang serangan hoaks yang hadir pada dianya dengan masif pula dikatakan waktu menghandiri acara deklarasi Alumni Jogja Gabungkan Indonesia di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Sabtu (23/3).

Jokowi mengatakan hoaks serta berita tidak benar mesti direspons dan dilawan. Menurut dia, dalam berpolitik janganlah menghalalkan dengan langkah hingga memecah iris persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baiknya, berpolitik mesti sesuai dengan perundang-undangan hingga bermartabat. Karenanya semestinya tidak sebarkan hoaks, ajaran kedengkian, serta sejenisnya. Dalam pesta demokrasi ada koridor konstitusional yang perlu ditaati. Berlainan pilihan tidak apa-apa, tetapi janganlah semua langkah dihalalkan seperti menyebar fitnah serta hoaks.

Jokowi mengemukakan akan mengangkat keceriaan dalam tiap-tiap kampanyenya serta malas berkampanye dengan memberi cerita pesimis pada penduduk. Karena, pokok kampanye sebenarnya ialah satu keceriaan di jalanan.

Saat berjumpa penduduk, Jokowi pula tidak capek untuk memperingatkan penduduk jika Indonesia adalah negara besar yang mempunyai bermacam suku, agama, kebiasaan, kebiasaan, bahasa, serta budaya. Berbagai keragaman yang ada selalu harus dijaga bersama seperti yang diingatkan oleh Bhinneka Tunggal Ika, berlainan tapi masih satu.