Deretan Dunia Teknologi yang Diharapkan Tak Muncul Lagi di 2019

Deretan Dunia Teknologi yang Diharapkan Tak Muncul Lagi di 2019

rjpkr88newsflash – Tahun 2018 ialah tahunnya beberapa pengembangan dalam dunia teknologi lahir. Dari mulai lahirnya MacBook, Apple iPhone, GoPro, sampai flagship Huawei yang kesemuanya dapat dimaksud terunggul yang sempat ada.

Akan tetapi tidak dapat disebut tahun 2018 tempo hari tidak ada perihal yang harusnya dieliminasi. Banyak tehnologi yang dapat disebut tidak berhasil, yang semestinya tidak kita jumpai kembali di tahun ini.

Berikut jejeran tehnologi yang diinginkan tidak muncul kembali di 2019.

1. RED Hydrogen One Phone

Harapan tinggi disematkan pada sang produsen camera video profesional terunggul dunia yaitu RED, saat mereka ingin membuat smartphone. Ditambah lagi ada feature yang diunggulkan dari smartphone ini yaitu monitor holographic.

Nah saat smartphone ini launching di sejumlah bulan lantas (yang harusnya launching 2017 yang membuat dapur picunya ketinggalan setahun), beberapa penggemar tehnologi dibikin sedih oleh smartphone yang dinamakan Hydrogen One ini. Monitor holographic yang diusungnya tidak cocok harapan serta ditambah lagi, tidak berapa bermanfaat. Perekaman 3D nya juga masih tetap tidak sesempurna yang dimaksud.

Segi sangat tidak berhasil dari smartphone ini ialah kualitas kameranya yang biasa saja, berkebalikan dengan kualitas produk RED yang tersohor di setiap variannya. Bahkan juga sensor camera yang dipakainya diprediksikan cuma sensor Sony atau Samsung yang memang umum terpasang di smartphone.

Ditambah lagi, harga nya dibandrol mengagumkan, yaitu 1.300 USD, yang membuat tambah mahal daripada posisi iPhone serta posisi Samsung Catatan paling baru.

2. Palm Phone

Dahulu beberapa penggemar tehnologi tentu tahu satu gadget mungil berupa sliding bernama Palm Pre yang berjalan diatas skema operasi WebOS. Nah, tahun 2018, Palm, perusahaan yang sama yang menghasilkan Palm Pre, melaunching Palm Phone. Ini ialah smartphone mungil dengan harga terjangkau.

Permasalahannya, Palm Phone ini bukan betul-betul smartphone. Ini ialah satu gadget yang dapat menukar piranti penting Anda, seperti manfaat yang dikerjakan oleh smartwatch menjadi alternatif jam tangan Anda.

Permasalahannya, berasa absurd untuk terima ide jika untuk kurangi waktu dengan gadget kita, kita mesti beli gadget lainnya. Ditambah lagi, performnya jelek serta baterainya cepat habis.

3. Seri Papan Tengah Samsung yang ‘Mahal’

Bukan rahasia umum jika Samsung menempatkan bandrol tinggi ke perangkatnya. Masalahnya ialah di fragmen papan tengah, Samsung kalah oleh jejeran smartphone asal China yang tawarkan tidak hanya perform papan menengah ke atas atau flagship, bahkan feature favorit lainnya seperti camera serta biometrikasi, dengan harga terjangkau.

Walau sebetulnya Samsung mempunyai andalan di bidang papan tengah yaitu Samsung Seri A atau A series, nyatanya pertarungan di bidang ini cukuplah ketat. Banyak vendor smartphone dengan produk andalannya seperti OnePlus, Xiaomi, Honor, serta ada banyak yang lain yang tawarkan nilai plus daripada Samsung.

Samsung Galaxy A sendiri cukuplah menghebohkan dengan rilisnya Galaxy A9 2018 dengan empat camera. Akan tetapi ada banyak nama yang tidak ingin perbanyak feature, akan tetapi malah menebalkan dapur picu serta melabelinya di harga papan tengah.

Mengambil contoh OnePlus 6T dan Xiaomi Pocophone yang kedua-duanya mengangkat Snapdragon 845 dengan RAM 6GB akan tetapi menempatkan bandrol tambah murah. Serta penduduk mesti pilih pada dua smartphone itu menantang Galaxy A9 yang sebatas mengangkat dapur picu asli Samsung di kelas papan tengah akan tetapi harga nya tambah mahal.

Perihal ini diperkeras dengan fakta jika smartphone entry-level sekalinya, sekarang tawarkan feature riil yang bisa saja nilai plus di mata customer. Banyak smartphone murah yang tidak memercayakan dapur picu, akan tetapi ketahanan baterei, atak sebatas camera depan yang jernih. Perihal ini semakin membuat customer akan berfikir lagi habiskan uang banyak di smartphone bermerek.

4. Essential Phone

Essential Phone sempat menyandang titel menjadi smartphone pertama yang mengangkat notch. Design ini pada akhirnya trend di 2017 serta 2018. Akan tetapi Essential Phone terlihat tidak tertangani dengan benar dan baik, serta di 2018 skip melaunching hp baru.

Dahulu di 2017 ada feature modular yang di tawarkan untuk smartphone ini, akan tetapi tidak ada kejelasan serta kapan launching dari piranti modularnya. Belum juga, isu simpang siur pada posisi Essential Phone ini akan diteruskan ataukah tidak, serta kelihatannya tidak.

Ditambah lagi, sang founder yaitu Andy Rubin yang dijuluki menjadi bapak Android, tersandung masalah yang cukuplah pelik.

Perihal ini ramai sebab laporan The New York Times masalah Andy Rubin yang dimaksud sudah terima paket pesangon sejumlah USD 90 juta saat tinggalkan perusahaan itu, sesudah seseorang karyawan Google menuduhnya lakukan pelanggaran seksual.

5. Notch

Design notch jadi trend di 2017, sesudah iPhone X melaunching design itu dengan mempedulikan semua keanehan yang muncul. Perihal ini ada untuk mengakomodir sensor yang umumnya terdapat dibagian atas monitor.

Sekarang, pengembangan sudah muncul untuk tidak terdapatnya notch akan tetapi monitor masih lebar. Seperti yang dikerjakan Oppo Find X yaitu proses sliding yang membuat camera depannya tersembunyi, dan yang sekarang tengah naik jadi trend yaitu design lubang monitor yang dimaksud Samsung ialah Infinity O.

Pada akhirnya kita dapat mengatakan selamat tinggal ke Notch, mengingat banyak yang menyebutkan lengkungan hitam ini mengganggu. Paling akhir, Google Piksel 3 XL mengimplementasikan design seperti ini ke perangkatnya, serta mendapatkan kritikan tajam atas design yang tidak indah.

6. Tablet yang hanya ‘Smartphone Raksasa’

Ada dua tablet papan atas yang launching tahun ini: Piksel Slate serta iPad Pro 2018. Kedua-duanya ialah tablet dengan perform serta feature mengagumkan. Masalahnya hanya tablet ini masih tetap adalah gadget mobile yang masih tetap tidak dapat menukar manfaat computer atau laptop.

Masalah Piksel Slate sendiri, ada banyak hal yang membuat memetik kritikan tajam. Dari mulai software yang membuat beberapa hardware yang memiliki loabel papan atas jadi tidak berperan, dan tidak berhasilnya Piksel Slate memperantai tablet Android dengan Chromebook sebab manfaat yang masih tetap mobile.

7. Facebook

Facebook alami tahun yang jelek di 2018. Tidak cukuplah masalah jumlahnya berita palsu, pemasaran tertarget yang sering mengganggu, bahkan juga rekan-rekan usang kita yang nyatanya membuat pos yang tidak kembali pas dengan preferensi kita. Perihal ini diperparah dengan kebocoran data di Facebook.

Di AS, data privacy pemakai Facebook dibocorkan serta disalahgunakan untuk memengaruhi nada politik dari penduduk, serta akan berimbas besar ke hasil pengambilan suara di Pemilu Presiden 2016 kemarin. Pasti ini ialah suatu yang mencoreng nilai demokrasi.

Parahnya, Facebook mengatakan ada 10 negara yang diduga datanya disalahgunakan oleh Cambridge Analytica, serta diantara rincian itu ada Indonesia.

Pasti begitu dapat dimengerti bila banyak diantara kita yang tidak ingin kembali bermedia sosial di Facebook. Sebab tidak hanya Facebook telah jadi tempat yang tidak ‘asyik’ kembali untuk online, resiko kebocoran data dapat punya pengaruh besar pada ketetapan politik hari esok Tanah Air kita.