Gampang Masuk Perangkap, Kita Manusia atau Tikus?

Perangkap

Perangkap tikus, konon, adalah satu-satunya alat yang tidak lagi membutuhkan inovasi. Ini karena tikus mudah sekali ditangkap akibat kebiasaan mereka melewati jalur yang sama berulang-ulang. Setelah tahu jalurnya, manusia cukup pasang perangkap di jalur itu untuk menangkapnya.

Manusia, kadang bisa bernasib seperti tikus itu pula. Karena kebiasaan yang berulang-ulang, mudah pula terjebak dalam perangkap. Bukan perangkap fisik yang memenjarakan tubuh, tapi sebuah perangkap yang lebih berbahaya: perangkap pikiran dan wawasan.

Waduh, kok tiba-tiba jadi berat sekali dan terasa seperti mau dihakimi? Sebelum semuanya kabur, baiklah, mari kita simak dulu sebuah cerita yang mungkin bisa lebih enak untuk diikuti daripada ceramah nan menggurui.

Kisah Si Joni

Seorang teman, sebut saja Joni, senang sekali menulis. Kegemarannya menulis ini jelas dipuji-puji banyak pihak, karena menulis adalah perbuatan terpuji. Ya kan? Kalau tidak, buat apa juga saya menghabiskan minggu siang ini untuk menulis dan bukan ngopi atau bermain bersama anak?

Intinya, Joni semakin rajin menulis lewat blog pribadinya dan semakin banyak yang memuji. Semakin yakin pada tulisannya, Joni ingin agar semakin banyak yang membaca. Maka ia sebarluaskan tulisannya lewat jejaring sosial, media sosial dan media-media lain yang bisa ia gunakan.

Setiap klik ‘Like’, setiap ‘Share’ dan setiap komentar jadi bahan bakar untuknya. Bahan bakar yang menjaga api semangat dalam dirinya untuk menulis terus dan terus.

Beberapa tulisannya, tentang topik tertentu, lebih banyak dapat ‘Like’, ‘Share’ dan komentar dari tulisan yang lain. Maka ia semakin sering menulis tentang topik itu. Semakin banyak ia menulis tentang hal itu, semakin banyak Like, Share, dan komentar. Begitu terus, seperti pusaran yang terus menguatkan.

“Wow,” suatu hari Joni berkata kepada saya, “aku sekarang sudah punya 2.000 follower lebih!”

“Hebat Joon. Udah jadi seleb nih?” celetuk saya.

Tapi dia tidak sempat membalas chat itu. Bahkan, itu jadi chat terakhirnya dengan saya. Kini Joni sibuk membuat tulisan di media sosial, sibuk berkomentar, sibuk menjaring Like dan Share dan Like dan Share dan Like dan Share dan seterusnya.

Joni, oh Joni…

Kebetulan Joni memang suka sekali menulis tentang sesuatu. Demi memberi sedikit pegangan dari sekadar ngawang dengan istilah ‘topik tertentu’ anggap saja Joni senang menulis tentang enaknya daging sapi.

Masalahnya, bukan hanya daging sapi itu daging paling enak menurut Joni, ia juga menganggap bahwa satu-satunya daging yang harus dikonsumsi oleh semua manusia di seluruh dunia hanyalah daging sapi. Lupakan ayam, ikan apalagi … telur!

Joni rupanya tidak sendiri. Ada banyak sekali penggemar sapi di internet. Mereka giat berseru: hanya sapi untuk kami, makan sapi sampai mati!

Tidak berhenti di situ, mereka sibuk sekali meyakinkan orang lain untuk hanya makan sapi. Bahkan, kadang inipun sudah terlalu ekstrim untuk Si Joni, mereka mengatakan tidak perlu lagi makan nasi!

Seorang teman, yang lain tapi juga bernama Joni, berkata pada saya: “Kenapa sih, sekarang orang-orang keras sekali membela daging sapi? Kan masih ada ayam, ikan atau… kambing!” ujarnya.

“Begini Jim (saya memanggilnya Jim supaya tidak tertukar dengan Si Joni tadi), sebenarnya kan orang bebas saja mau makan daging sapi, ayam, ikan atau… kuda! Tapi, mungkin Joni ini memang suka sekali sapi dan ia percaya, sapi-lah satu-satunya,” ujar saya berusaha mengutip lagu Dewa 19.

“Tapi kan sudah jelas. Apa yang Joni sampaikan soal sapi itu salah. Dan ia mati-matian, menyebarkan berita palsu soal ayam, ikan dan… kalkun! Hanya untuk menguatkan posisi sapi,” kata Jim yang juga Joni itu.

Nah, pertanyaannya apa yang membuat Joni menjadi seleb di kalangan penggemar sapi? Dan, kenapa semua penggemar sapi seakan-akan tidak bisa melihat hal lain?

Joni dkk dalam perangkap

Masih ingat kisah tikus tadi? Ingatkah bahwa tikus (dan manusia) bisa terjebak perangkap karena mengulang-ulang kebiasaannya.

Tahukah Anda bahwa banyak penyedia layanan online yang memasang perangkap? Bahkan perangkap itu sangat nyaman dan menyenangkan sampai-sampai kita terlena olehnya.

Joni dan para pengikutnya, sesungguhnya telah terjebak dalam perangkap itu. Dan setelah terperangkap, sungguh sulit bagi mereka untuk kembali, kecuali mereka sendiri yang menginginkannya.

Ini adalah kejadian yang disebut Eli Pariser sebagai The Filter Bubble — seperti dijelaskannya dalam buku The Filter Bubble: What The Internet is Hiding from You, terbitan Penguin, 2011. Kalau tidak sempat baca bukunya, ada juga video 9 menitan Pariser dalam acara TED yang tersedia di YouTube (https://youtu.be/B8ofWFx525s). Saya juga cuma nonton videonya kok.

Dalam wawancara dengan Amazon soal bukunya, Pariser mengatakan hal berikut ini:

Kita terbiasa menganggap internet sebagai sebuah perpustakaan besar, dengan layanan seperti Google yang menyediakan peta semesta. Tapi, hal itu sudah tidak lagi benar.

Situs seperti Google, Facebook dan bahkan Yahoo News hingga New York Times sekarang makin banyak menampilkan informasi yang dipersonalisasikan — sesuai dengan sejarah kunjungan web Anda.

Mereka menyaring informasi untuk menampilkan hanya hal-hal yang menurut mereka Anda ingin lihat. Hal itu bisa sangat berbeda dari yang dilihat orang lain — atau dari yang kita butuhkan.

Gelembung saringan Anda adalah semesta informasi yang unik, personal dan diciptakan hanya untuk Anda melalu serangkaian filter personalisasi itu. (Gelembung saringan itu) tidak kasat mata dan semakin sulit bagi Anda untuk keluar darinya.

Demikian Eli Pariser menjelaskan gelembung itu. Gelembung yang, bisa jadi telah menjebak hampir semua pengguna media sosial dengan nyaman. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia lho, bukan hanya pada Joni dan pengikutnya, tapi pada kita semua, semakin sering kita menggunakan media sosial dan layanan lainnya, semakin mudah kita masuk perangkap yang empuk.

Ini lebih parah dari confirmation bias, yaitu keadaan ketika manusia lebih mudah menerima informasi yang membenarkan hal yang sudah ia percaya daripada yang menentangnya. Ini bahkan tidak memberi kesempatan manusia untuk melihat pandangan yang berlawanan.

Atau, lebih tepatnya, gelembung saringan ini telah membuat bias konfirmasi itu menjadi semakin kuat. Bahkan saking kuatnya hingga, dan ini yang cukup menakutkan, bisa mendorong orang untuk bertindak sesuai informasi itu.

Joni lagi, Joni lagi

Oke, cukup ceramahnya. Kita coba kembali pada kisah si Joni. Semoga Anda belum bosan dan masih terus membaca. Kalau tidak, ya ndak apa-apa, selama sudah klik Like dan Share.

Suatu hari, Si Joni dapat kisah yang mengerikan. Sebuah kandang sapi diobrak-abrik oleh kelompok peternak ayam. Rupanya mereka kesal karena sapi jadi makanan utama di wilayah itu, atau mereka ingin agar orang makan ayam juga, atau apalah. Intinya, Joni kesal, Joni marah, Joni mengamuk.

Dari balik layar Joni mengutuk. Ia mulai menulis, menyebarkan kabar yang menurutnya sangat harus disebarkan itu. Lalu ribuan orang bereaksi, menyebarkan lagi kabar itu. Hingga, nah ini yang seram sekali, teman-teman Joni di wilayah yang diisukan tadi mulai melakukan aksi brutal. Mereka mencabuti bulu-bulu ayam dari peternakan setempat, mengusir ayam-ayam dan bahkan hampir… hampiiiir saja… membakar  sebuah peternakan ayam.

Kemudian terungkap, bahwa aksi pencinta ayam yang mengobrak-abrik kandang sapi itu ternyata tidak pernah terjadi. Kejadian sesungguhnya? Peternak sapi rupanya membeli ayam untuk kenduri dan peternak ayam datang mengantarkan.

Saat ditanya, kenapa menyebarkan informasi yang salah itu, Joni hanya berkata: “Saya kan hanya menyebarkan, silakan mereka yang menerima mencoba mencari tahu hal yang sebenarnya. Saya sudah bilang kok, saya cuma share, kabar ini belum tentu benar,” ujar Joni.

Kami suka, Joni suka

Reuters Institute for The Study of Journalism mengungkapkan satu hasil survei yang buat saya cukup mengkhawatirkan. Pembaca berita rupanya senang jika berita yang disodorkan padanya dipilih oleh algoritma (mesin, bukan manusia) berdasarkan apa yang pernah ia baca sebelumnya (36 persen).

Pembaca lebih suka hal itu daripada dipilihkan oleh mesin tapi berdasarkan apa yang dibaca oleh temannya (22 persen) atau dipilihkan oleh editor (30 persen). (Lengkapnya, baca di

Kasarnya, 58 persen lebih suka berita yang ia baca adalah yang dipilihkan oleh mesin dan hanya 30 persen yang suka dipilihkan oleh manusia lain, dalam hal ini oleh editor dan wartawan media massa.

Ini jelas mengkhawatirkan karena berita yang dipilihkan oleh mesin secara otomatis bisa menyebabkan:

– Gelembung saringan, yang membuat orang hanya membaca berita yang membenarkan pandangan yang selama ini dimilikinya

– Diskriminasi algoritmis, ketika berita otomatis itu membuat orang tertentu ketinggalan informasi penting, contohnya orang miskin tidak dapat berita soal keuangan.

– Masalah privasi, karena data yang digunakan untuk membuat fitur personalisasi itu adalah data di tingkat individu.

Tapi, kenapa pembaca menyukai itu? Kenapa, misalnya, teman-teman Joni senang mendapatkan berita yang itu-itu juga, ya tulisan-tulisan yang dibuat oleh Joni dan sejenisnya itu?

Masalahnya, memang sangat nyaman dan empuk untuk hanya melihat yang kita memang sudah suka. Melihat pandangan yang berbeda adalah sesuatu yang tidak nyaman. Membaca hal yang bertentangan dengan yang kita percaya adalah sesuatu yang bisa membuat kesal.

Saat melihat sesuatu yang tidak kita setujui, atau seseorang yang tidak setuju dengan pandangan kita, sangat besar kemungkinan untuk tidak menyukainya. Cukup besar juga kemungkinan kita untuk melakukan sesuatu, seperti meninggalkan situs yang sedang kita buka.

Takut Joni kabur?

Hal yang terakhir itu yang mungkin ditakutkan para penyedia layanan media sosial, situs berita atau layanan online lainnya. Mereka ingin pengunanya nyaman dan betah terus-menerus menggunakan layanan mereka, agar iklan-iklan itu tetap dapat tampil.

Tapi, benarkah harus demikian?

Eduardo Graells-Garrido di Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spanyol. Dan juga Mounia Lalmas dan Daniel Quercia di Yahoo Labs, seperti dimuat oleh Technology Review di 2013 lalu, menemukan cara untuk memecah gelembung itu.

Mereka menemukan bahwa gelembung itu bisa dipecah dengan memberikan rekomendasi atas orang yang memiliki pandangan berbeda di topik tertentu tapi minat yang sama di topik yang berbeda.

Persamaan itu menjadi semacam jembatan yang kemudian bisa membuka pandangan pengguna, sehingga mereka lebih mudah menerima adanya orang dengan pandangan berbeda. Tidak serta-merta mengubah pandangan, tapi menjadi lebih terbuka dan tidak seperti pengikut Si Joni yang sampai harus melarang orang makan ayam, ikan atau… kelinci!

Jika sudah lebih terbuka, orang-orang ini akan lebih mudah menerima perubahan. Nah, bagi penyedia layanan hal ini mungkin bisa berguna saat mereka hendak melakukan perubahan tampilan pada layanannya.

Pengguna yang pikirannya terbuka tidak akan mudah ngambek dan meninggalkan layanan tertentu hanya karena ada perubahan kecil seperti tombol Like jadi Love.

Namun, selama itu belum terjadi, mari kita semakin sadar sebagai pengguna. Jangan mau hanya jadi tikus yang mudah masuk perangkap. Kita manusia, bisa dan mampu melihat yang berbeda. Pecahkan gelembung Anda, sekarang!