LSI Denny JA Menyebut Pamor Amien Rais Menurun

LSI Denny JA Menyebut Pamor Amien Rais Menurun

rjpkr88newsflash – Hasil survey terbaru LSI Denny JA menyebutkan pamor Amien Rais menjadi tokoh sekaligus juga Ketua Dewan Pembina Partai Amanat Nasional (PAN) alami penurunan. Hal tersebut tampak dari tingkat kepopuleran PAN mendekati Pemilu 2019.

LSI Denny JA mencatat nada yang didapat PAN masih tetap ada dibawah PKS serta PPP. Pada Agustus PAN mendapatkan nada 1,4 %, pada September sekitar 1,5 %, Oktober mendapatkan 1,9 %, November memperoleh 1,6 % serta Desember cuma memperoleh 1,8 %.

Hal tersebut langsung dibantah oleh Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad Wibowo. Dia menyebutkan Amien mempunyai tempat spesial di badan partainya.

Periset politik dari Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo mengamini pengakuan survey LSI Denny JA. Berkurangnya pamor pendiri PAN itu, katanya, dikarenakan oleh beberapa aspek.

Pertama, tempat Amien yang tidak tempati tempat jabatan publik manakah juga. Hal tersebut, kata Wasisto, jadikan Amien tidak memiliki kekuasaan resmi untuk dapat dihormati orang.

Setelah itu, berkurangnya pamor Amien pun dikarenakan oleh pernyataan-pernyataan kontroversialnya waktu menyikapi satu rumor. Contoh sangat lekat ialah berkaitan pengakuan Amien masalah dikotomi Partai Setan serta Partai Allah waktu lalu.

“Pengakuan beliau di ruang umum cukuplah polemis serta itu mengundang antisimpati pada publik,” tutur Wasisto.

Inkonsistensi sikap politik Amien, kata Wasisto, turut menyebabkan penurunan pamornya. Dalam kurun beberapa waktu paling akhir, menurut dia, berlangsung pergantian sikap politik yang cukuplah berlebihan dari Amien.

Contohnya, sekarang ini Amien ada di tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang dipandang begitu erat hubungannya dengan penguasa di jaman Orde Baru.

Dalam formasi konsolidasi Prabowo-Sandi ada beberapa punggawa waktu orde baru, salah satunya, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), Siti Hediyati Hariyadi (Titiek Soeharto), serta Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut Soeharto). Ke-3 figur itu tidak lainnya adalah anak dari Presiden RI ke-2 Soeharto.

Sikap politik Amien itu berlainan dengan rekam jejaknya di waktu kemarin. Pada awal 1990-an atau diakhir waktu kepemimpinan Soeharto, Amien diketahui publik menjadi tokoh yang lantang mengatakan anti Orde Baru.

Amien bahkan juga mendapatkan titel “Bapak Reformasi” sebab perjuangannya di waktu orde baru. Walau titel itu juga polemis karena beberapa pihak menyebutkan dianya cuma mendompleng perjuangan mahasiswa waktu itu.

Pada 1998 Amien sempat juga mengkritik Prabowo. Dia sempat minta Presiden ke-3 RI BJ Habibie untuk menyeret Prabowo ke Mahkamah Militer berkaitan masalah penghapusan paksa mahasiswa serta aktivis mendekati keruntuhan Orba.

Menurut Wasisto, sikap Amien yang sekarang ini kembali memberi dukungan Prabowo itu membuat pamornya menjadi pahlawan reformasi di mata publik hilang.

“Itu begitu punya pengaruh, ingatan publik kan tidak mungkin hilang saat itu juga. Reformasi baru saja berlangsung nah mengapa lalu geser haluannya cepat itu memberikan inkosistensi dalam berpolitik,” tutur ia.

Pengamat Politik Kampus Islam Negeri (UIN) Jakarta Syarif Hidyatullah Adi Prayitno menyoroti karir politik Amien yang lekat dengan manuver-manuver cukuplah berlebihan.

Tidak hanya masalah di inkonsistensinya pada Orde Baru, Adi menyebutkan manuver politik Amien dalam mengusung sekaligus juga melengserkan Presiden RI Ke-4 Abdrurrahman Wahid alias Gus Dur pun membuat citranya alami penurunan di mata publik.

Amien didapati, ialah figur yang membuat poros tengah pada 1999 serta mengangkat Gus Dur menjadi capres melawan Megawati Soekarnoputri. Akan tetapi, dua tahun berlalu, persisnya pada 23 Juli 2001, Amien yang saat itu jadi Ketua MPR mengesahkan Ketetapan Sidang Spesial MPR yang membuat Gus Dur lengser dari jabatannya.

“Manuver Amien Rais yang jadikan Gus Dur Presiden serta Manuver ia pun lah yang menurunkannya menjadi presiden, sebab ketua MPR-nya Amien Rais. Ya memang semenjak awal ia politisi yang memang sulit ditebak ketekunan politiknya,” tutur Adi terpisah.

Aspek lainnya ialah beberapa cara konfrontatif Amien dalam mengkritik lawan politiknya. Kata Adi, psikologi politik penduduk di hari ini telah condong bersimpangan dengan style lama Amien itu.

“Semangat pergantian jaman ini yang cukup dikit lupa diamankan oleh Amien jika seolah style ngomong seperti Rambo itu dipandang norak oleh generasi saat ini,” katanya.

Mundur Dari Politik Praktis

Menurut Adi di umur Amien yang telah mencapai 74 tahun ini telah saatnya buat ia mundur dari panggung politik praktis. Menurutnya Amien tidak patut laku simpatisan dengan pengalaman serta usianya itu.

Sekarang ini, kata Adi, Amien terlalu simpatisan serta mempunyai resistensi politik yang cukuplah keras. Hal tersebut tampak dari style ia dalam mengkonfrontasi lawan politik serta menyikapi semua desas-desus yang berkembang.

Amien terlalu seringkali memberi komentar desas-desus dengan kebutuhan politik elektoral. Dengan triknya itu, Amien tampak selevel dengan jubir serta timses, bukan orang politik senior.

“Ia apakah urusannya katakan Partai Allah Partai Setan itu urusannya juru bicara serta jurkam, Pak Amien cukuplah menarasikan yang sifatnya umum dengan pilihan rumor yang untuk kebutuhan bangsa. Janganlah semua dikomentari,” katanya.

Seirama Wasisto merekomendasikan supaya Amien mainkan peranan menjadi ‘guru bangsa’. Dalam peranan itu Amien mundur dari gelanggang politik praktis serta dapat menaungi semua kelompok. Kata Wasisto, dengan peranan itu Amien dapat selamatkan nama supaya masih tetap terhormat di mata publik.

“Ya harusnya beliau mundur dari panggung politik praktis. Itu ialah langkah terunggul untuk selamatkan nama besar beliau,” katanya.

Buat PAN sendiri, Adi memandang telah saatnya melepas ketergantungan pada ketokohan Amien. Karena, saat masih tetap tergantung pada ketokohan Amien, PAN akan turut dipengaruhi pada pamor Amien.

“Kepopuleran PAN sejak dahulu memang karena Pak Amien Rais bahkan juga beliau melebihi PAN sendiri,” tutur Adi.

Menurutnya dengan hasil survey LSI Denny JA ini harusnya jadi momen buat PAN untuk kurangi ketergantungan pada Amien Rais menjadi profil sentra. Menurutnya telah waktunya PAN untuk mencari profil sentra tidak hanya Amien.

“Banyak profil yang dapat dikapitalisasi yang penyesuaian serta penerimaan publiknya mengagumkan serta itu tokoh muda, ada Drajad Wibowo, Zulkifli Hasan, tinggal itu saja, bahkan juga ada Faldo Maldini,” kata Adi.

“Grup muda ini biarlah yang membuat partai ini berjalan tak perlu tergantung pada salah satunya profil,” katanya memberikan.