Menhan Akan Tempeleng Jika Ada yang Bilang Kafir

Menhan Akan Tempeleng Jika Ada yang Bilang Kafir

rjpkr88newsflash – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mulai bicara berkaitan saran Nahdlatul Ulama yang menyarankan kata kafir ditukar jadi nonmuslim untuk menyebutkan orang di luar Islam. Kata Ryamizard, arti kafir yang begitu gampang disampaikah oleh segelintir orang sudah mengganggu perasaan persaudaraan antar-sesama anak bangsa.

“Saya tetap baca ayat ‘lakum diinukum wa liyadiin’. Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Saya tidak menyembah yang kamu sembah serta kamu tidak menyembah yang saya sembah. Masuk neraka itu masalah Tuhan, enak saja katakan kafir-kafir. Jika ada yang katakan kafir, saya tempeleng,” kata Ryamizard waktu pembukaan Rakor Pelajari Pembinaan Kesadaran Bela Negara di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa, 5 Maret 2019.

Ryamizard mengemukakan perasaan prihatinnya mengenai mulai retaknya perasaan persatuan. Pancasila menjadi basic negara mesti dipegang yaitu sama-sama menghargai antarumat beragama. Dia lihat sama-sama ejek serta fitnah akhir-akhir ini dilatari ketidaksamaan pilihan politik.

“Jika ribut permasalahan agama kita mesti ingat jika Pancasila telah menampung supaya penduduk dapat menjalankan ibadahnya semasing dengan tenang. Kita bukan negara agama, kita ini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jadi mesti sama-sama menghargai,” katanya.

Awal mulanya, Munas Alim Ulama serta Pertemuan Besar Nahdlatul Ulama merekomendasikan supaya Masyarakat Negara Indonesia yang beragama nonmuslim tidak kembali dikatakan sebagai kafir. Sebab menurut beberapa ulama, kata kafir dipandang memiliki kandungan unsur kekerasan teologis.

Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengemukakan jika dalam skema kewarganegaraan dalam satu bangsa dan negara, tidak diketahui arti kafir. Karenanya, tiap-tiap masyarakat negara mempunyai posisi serta hak yang sama di mata konstitusi.

“Arti kafir laku saat Nabi Muhammad di Mekah. Tetapi sesudah Nabi Muhammad pindah ke kota Madinah, tidak ada arti kafir untuk masyarakat negara Madinah, yang ada ialah nonmuslim,” kata Said Aqil.

Said menjelaskan saat itu ada tiga suku nonmuslim, yakni suku Bani Qoynuqa, Bani Quraizah, Bani Nadhir. Mereka semua dimaksud nonmuslim, tidak dimaksud kafir.

“Ini mesti kita terangkan dengan ilmiah. Ya tidak apa-apa, saya sendiri seringkali dikafirkan orang,” lanjut Said.