Perayaan Hari Valentine di Indonesia yang Dirayakan Sekaligus Dikutuk

Perayaan Hari Valentine di Indonesia yang Dirayakan Sekaligus Dikutuk

rjpkr88newsflash – Tanggal 14 Februari di Indonesia berkembang jadi hari yang dirayakan sekaligus juga dikutuk beberapa pihak. Di beberapa daerah, penduduk tidak dilarang untuk memeriahkannya, tapi di daerah spesifik perayaan hari Valentine bahkan juga jadi etika negatif yang mengandung sanksi.

Seperti di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Semenjak tahun 2017, Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik teratur mengirim surat edaran ke lembaga-lembaga pendidikan negeri ataupun swasta, berisi larangan perayaan hari Valentine.

“Pekerjaan itu tidak cocok dengan budaya penduduk Indonesia, terpenting penduduk Gresik, yang notabenenya jadi kabupaten santri,” papar Mahin, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, pada BBC Indonesia, Rabu (13/02).

Larangan itu laku buat beberapa siswa, baik di lingkungan sekolah ataupun di luar. Surat edaran itu pun menuntut sekolah memberi pandangan mengenai hari Valentine pada beberapa murid.

“Diinginkan sekolah menindaklanjuti pemberitahuan ke orang-tua, hingga orang-tua pun ingin ikut serta penuhi apakah yang kita harap,” katanya.

Larangan itu ada dengan sangsi pendisiplinan pada siswa yang melanggar. Bentuk sangsi diserahkan pada semasing sekolah, dengan pemanggilan orang-tua siswa menjadi awalannya.

Menurut Mahin, perayaan hari Valentine bisa berbuntut pada praktek pergaulan bebas. Hal tersebut lalu dipandang punya potensi memunculkan sangsi sosial, yang bukan sekedar akan dijamin aktor, tapi pun penduduk.

“Anak-anak ini jangan pernah terperosok pada budaya-budaya nanti yang akan merugikan siswa tersebut,” katanya.

Meskipun begitu, menurut penilaian Mahin semenjak sebelum surat edaran dibikin 2017 lantas, perayaan Valentine sendiri tidak pernah berbuntut pada beberapa hal yang dia kuatirkan.

“Menurut data yang ada masih tetap belumlah ada untuk kejadian-kejadian yang tidak diharapkan. Hanya anak-anak jika contohnya acara Valentine day itu, membuat acara-acara itu, kan nanti jika kita tidak menghadapi kan jadi masalah,” katanya.

`Enggak tahu mengapa dilarang`

Setali tiga uang, Kota Banda Aceh juga kembali mengaplikasikan larangan peringatan hari Valentine. Larangan itu dituangkan berbentuk seruan pada surat edaran yang mulai disosialisasikan semenjak 21 Januari kemarin.

“Kelompok generasi muda, mahasiswa, siswa-siswi serta semua penduduk muslim Kota Banda Aceh, supaya tidak rayakan Valentine Day berbentuk apa pun sebab Valentine Day bertentangan dengan Syariat Islam serta bukan budaya Aceh,” bunyi point pertama seruan itu.

Dira, masyarakat Banda Aceh berumur 22 tahun, terasa jika larangan itu sering muncul tiada keterangan dari pemerintah mengenai apakah yang dimaksud dengan hari Valentine serta apakah latar belakang pelarangannya.

“Sebetulnya saat ini banyak beberapa gerakan yang anti-Valentine, tetapi edukasi mengenai larangan itu pada tidak tahu mengapa dilarang, jadi anak-anak SMA saat ini iya sebatas ikutan tidak untuk rayakan Valentine,” tutur Dira pada Hidayatullah, wartawan di Aceh yang memberikan laporan untuk BBC News Indonesia, Rabu (13/02).

Dia kembali kenang saat-saat waktu larangan Valentine belumlah diresmikan. Dira mengakui, sewaktu sekolah basic (SD) sampai duduk di bangku SMA, dia sering mendapatkan hadiah cokelat dari pengagum rahasianya ataupun dari temannya di hari Valentine.

“Sewaktu sekolah, seringkali sekali diberi surprise cocok Valentine, seperti cokelat. Dira sendiri tidak tahu siapa yang memberi, sebab cokelat itu sudah ada saja dibawah meja sekolah. Akan tetapi saat ini sudah tidak pernah mendapat kembali sejak ada larangan peringatan hari Valentine,” kenangnya.

Selain itu, didapati dalam tempat berlainan, Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman beralasan jika larangan dikerjakan sebab budaya itu dipandang bukan budaya penduduk Aceh serta tidak cocok dengan etika syariat Islam.

“Banda Aceh serta Aceh biasanya adalah daerah syariat Islam, daerah spesial yang perlu dihormati oleh agama lainnya, jadi di sini tidak ada Valentine day ataupun perayaan penyambutan tahun baru,” papar Aminullah, Rabu (13/2).

Dia juga minta pihak hotel, kafe serta tempat hiburan tidak untuk memfasilitasi pekerjaan perayaan hari Valentine.

Baginya, perayaan hari kasih sayang yang sama dengan Valentine, dalam Islam, bisa dikerjakan pada hari besar yang lain.

“Tidak harus pada tanggal 14 Februari, tetapi peristiwa seperti maulid, puasa, serta lebaran, kita dapat juga tetap berkasih sayang dengan mengundang beberapa orang hadir ke tempat kita,” tuturnya.

Tidak ada larangan perayaan Valentine di Makasar

“Jadi, golongan milenial (yang) ialah keinginan hari esok bangsa menjadi agen pergantian, pada hari Valentine ini, selamat serta sukses tetap,” papar Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, Selasa (12/2).

Berlainan dengan Kabupeten Gresik serta Kota Aceh, Nurdin pilih berlaku demokratis. Menurut dia, perayaan hari Valentine ialah hak semasing orang.

“Itu bergantung kepercayaan semasing. Itu budaya kok , bukan suatu ritual yang perlu kita persoalkan,” katanya pada wartawan di Makassar.

Nurdin menyamai perayaan hari Valentine dengan hari ulang tahun seorang. Baginya, ke-2 peristiwa itu bebas dirayakan ataupun tidak, bergantung pribadi yang melakukan.

Meskipun begitu, Nurdin setuju jika hari Valentine bukan jadi arena buat tingkah laku sex bebas. “Tidak bisa, itu tidak bisa. Itu dilarang oleh agama serta itu bukan budaya kita,” tutur Nurdin.