Sudah Memiliki Bukti Jurnalis Laporkan Lagi Intimidasi di Munajat 212

Sudah Memiliki Bukti Jurnalis Laporkan Lagi Intimidasi di Munajat 212

rjpkr88newsflash – Satu kembali seseorang jurnalis yang meliput acara Munajat 212 melapor ke polisi atas kekerasan yang dia alami. Laporan kesempatan ini datang dari Endra Rizaldi, jurnalis CNN Indonesia TV, yang mendapatkan intimidasi waktu lakukan tugasnya dari sekumpulan orang di acara itu.

Kepala Peliputan CNN Indonesia TV Revolusi Riza yang mengikuti Endra menjelaskan laporan yang mereka bikin berdasar pada pendapat penghalangan kerja jurnalistik. Selain itu, pihak yang dilaporkan ialah massa yang menggunakan atribut ormas Front Pembela Islam (FPI).

“Masalah [yang digunakan]-nya penghalang-halangan kerja jurnalistik, melanggar Masalah 4 UU Wartawan No 40 Tahun 1999 [tentang Pers]. Meskipun lalu ada juncto kekerasan di KUHP tetapi yang kita utamakan UU Pers-nya yang kita laporkan,” kata Riza selesai temani Endra membuat laporan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (27/2).

Riza mengutamakan tindakan massa yang mengintimidasi Endra waktu kerja tidak bisa dibetulkan. Aksi massa minta Endra untuk meniadakan rekaman hasil peliputannya dia kira menghambat hak publik untuk mendapatkan info tentang momen yang berjalan.

Dalam laporan bernomor LP/1219/II/2019/PMJ/Dit.Reskrimum ini, ada dua info saksi yang mereka utamakan. Selain itu, pihak Endra pun membawa bukti berbentuk camera serta rekaman.

Kehadiran bukti ini yang menurut Riza memperbedakan dengan laporan sama atas nama Satria Kusuma, jurnalis Detik.com, yang ikut mendapatkan intimidasi serta kekerasan dari massa beratribut FPI.

“Tempo hari kan masalah hari Jumat dilaporkan. Itu susah sebab tidak ada bukti videonya, jadi polisi identifikasinya jadi sulit. Jika ini kami bawa serta bukti rekaman saat ia disuruh meniadakan itu,” kata Riza.

Walau demikian, Riza menyatakan laporan ini akan menguatkan laporan sama yang dibikin jurnalis lainnya yang mendapatkan kekerasan di acara Munajat 212 itu. Dia mengharap pihak berwajib bisa mengidentifikasi aktor intimidasi serta kekerasan itu.

Perkataan Maaf

Endra menceritakan jika waktu itu ia cuma refleks merekam kekacauan yang dipacu oleh tertangkapnya seseorang copet di dekat pintu masuk VIP acara Munajat 212 di Monas, Kamis (21/2). Cuma sebab ambil gambar itu, dia mengakui didorong seringkali oleh beberapa orang beratribut FPI.

Peristiwa itu selesai dengan diusirnya Endra dari tempat acara serta dihapusnya rekaman mengenai kekacauan barusan sesuai dengan tekanan serta intimidasi massa.

“Hanya pendorongan saja yang saya alami, mungkin dua, 3x didorong. Saya fikir sebab ada kawan saya, Joni, yang jagain di belakang, agar tidak semakin banyak yang dorong saya jadi dapat mengakhiri permasalahan disana pun untuk mencari jalan tengahnya,” papar Endra.

Dia memberikan sampai sekarang ini belumlah ada perkataan maaf dari pihak panitia atas insiden yang menerpanya.

Riza yang menjabat Sekjen Aliansi Jurnalis Berdiri sendiri (AJI), membetulkan belumlah ada ide dari panitia untuk mengulas perihal ini. Walau juga ada, dia mengutamakan proses penegakan hukum mesti masih berjalan.

“Jika misalnya kelak dibawa bercakap ya monggo saja tetapi proses hukum akan jalan,” kata Riza.