Terungkap Cara Kerja Fintech Pinjaman Online Ilegal

Terungkap Cara Kerja Fintech Pinjaman Online Ilegal

rjpkr88newsflash – Tim Direktorat Tindak Pidana Siber (Ditipidsiber) Tubuh Reserse Kriminil (Bareskrim) Polri membuka masalah praktek penagihan yang tidak manusiawi dikerjakan oleh salah satunya perusahaan fintech peer to peer lending atau pinjaman online. Pihaknya tangkap 4 debt collector (DC) dari PT. VCard Technology Indonesia dengan merk Vloan.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Rickynaldo Chairul, mengatakan didapati perusahaan itu adalah fintech ilegal serta nyatanya tidak berbasiskan di Indonesia.

“Dimana server aplikasi Vloan terdapat di daerah Zheijang, China dengan Hosting Server di Arizona serta New York USA,” katanya dalam pertemuan wartawan di Kantornya, Jakarta, Selasa (8/1).

Ia mengutarakan, Vloan pun mempunyai nama lainnya yakni Supercash, Rupiah Kontan, super dana, Utang Plus, Super dompet serta super utang.

Ia memberikan, langkah kerja penagihan yaitu dengan terhubung semua data yang berada di HP nasabah. Karena, saat nasabah download aplikasi utang Vloan, jadi nasabah akan ikuti serta menyepakati semua ketentuan yang berada di aplikasi supaya utang bisa di setujui.

“Sesudah menyepakati kriteria dari Vloan, jadi semua data yang ada pada Handphone Nasabah akan dibuka lewat aplikasi,” ia memberikan.

Mengenai data yang perlu tercantum oleh nasabah saat peminjaman ialah Nama (sesuai dengan KTP), NIK, Tanggal lahir, Alamat, Rekening Bank, Pekerjaan, ID card tempat kerja, Photo Selfi pemohon dengan menggenggam KTP serta Emergency Kontak (5 nomer Telephone).

Sesudah calon nasabah tuntas lakukan pemasangan aplikasi di handphone. Calon nasabah lalu baru bisa lakukan permintaan utang sesuai dengan nilai atau jumlahnya yang ada dalam aplikasi diantaranya mulai. Rp 600.000 sampai Rp 1.200.000 dalam tempo 7 hari serta 14 hari.

“Dari hasil penyidikan serta penyelidikan didapati jika Direktur PT Vcard Indonesia ialah Je Wei alias Clif yang tinggal di China, jika Jei Wei kuasai Token Rekening BCA atas nama PT. Vcard Technologi Indonesia,” katanya.

Sesudah data nasabah bisa dibuka oleh Vloan, jadi proses pinjam meminjam uang akan terwujud, dimana nasabah mengirim nomer rekening menjadi penampung uang utang dari aplikasi Vloan.

PT. Vcard Technology Indonesia (Vloan) memakai layanan payment gateway (Xendit, Bluepay, serta Doku) untuk mengirim dana utang ke nasabah. Dalam proses pemberian utang yang dikerjakan oleh Vloan tidak cocok dengan pagu utang yang sudah disetujui.

Salah satunya contoh, bila pihak nasabah minta utang sebesar Rp 1.000.000, jadi Vloan akan lakukan pentransferan ke rekening calon nasabah dengan nilai yang berlainan salah satunya Rp 825.000, Rp 875.000 serta. Rp 900.000.

Bila dalam proses 7 s/d 14 hari kerja si nasabah akan kembalikan pinjamannya. Pihak PT.Vcard Technologi Indonesia (Vloan) lewat payment gateway memberi nomer Virtual Akun dari semasing rekening Mandiri, Permata, BNI, BRI serta BCA atas nama PT. Vcard Technology Indonesia.

“Bila dalam tempo 7 sampai 14 hari beberapa nasabah telah membayar hutangnya jadi akan tidak di hubungi oleh Desk Collector. Bila nasabah telah jatuh tempo untuk membayar jadi pihak Desk Collector PT. Vcard Technology Indonesia (Vloan) yakni Indra, Fanji alias Kevin Yuniar, Ronny Sanjaya alias X_X serta Wahyu Wijaya alias Ismed Chaniago akan terhubung Supercash.co/Banshee Vloan lalu lakukan login dengan memakai Username serta password masingmasing DC hingga bisa masuk ke feature task dimana dalam Feature itu ada datadata nasabah yang akan ditagih,” tuturnya.

Setelah itu, DC akan merekomendasikan pada nasabah untuk lakukan pembayaran ke supercash, sebab Vloan tidak bisa dibuka lewat aplikasi kembali.

Untuk nasabah yang sudah jatuh tempo lakukan pembayaran utang uang diatas 15 hari dan tidak bisa dihubungi jadi beberapa DC akan lihat data-data kontak dari nomornomor telephone nasabah lalu akan mengontak serta menyampaikan pesan jika nasabah mempunyai utang uang yang belumlah dibayarkan ke PT.VCARD TECHNOLOGY INDONESIA.

Bila ada nasabah yang sudah jatuh tempo lakukan pembayaran utang uang diata.s 30 hari dan tidak bisa dihubungi jadi beberapa DC akan membuat Grup Whatsapp serta mengundang nomer nasabah serta nomot nomor rekan ataupun keluarga dari nasabah yang berada di kontak handphone nasabah.

“Bahkan juga dari pihak DC akan mengemukakan pesan bau pornografi atau sexual harassment pada korban yang telah terhimpun dalam grup yang dibikin oleh DC. Sedang DC yang lain yang terhimpun dalam grup Whatsapp ikutan membuat situasi makin panas serta memberi desakan batin pada korban,” katanya.

Mengenai kerugian dari beberapa korban ialah, satu diantara mereka ada yang perlu diberhentikan dari tugasnya, menangung malu karena penyebaran utang pada semua kontak yang ada pada HP korban, terasa terintimidasi dengan pengucapan kasar dari beberapa terduga serta jadi korban pelecehan seksual dari terduga yang mengirim beberapa content dan pengucapan pornografi dalam grup Whatsapp yang mereka bikin.

Ke empat terduga itu dijaring dengan masalah 40, 29 jo Masalah 4 ayat (1) Undang-Undang Nomer 44 Tahun 2008 mengenai Pornografi. Lalu masalah 45 ayat (1) serta (3) Jo Masalah 27 ayat (1) serta (3), Mengenai Penghinaan serta Pencemaran Nama Baik.

Diluar itu, terduga pun dikenai masalah 45B Jo Masalah 29 Undang-Undang Nomor. 19 Tahun 2016 mengenai Pergantian atas Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2008 mengenai Info serta Transaksi Elektronik. Yang paling akhir ialah masalah 369 KUHP serta atau Masalah 3, 4, 5 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 mengenai Tindak Pidana Pencucian Uang.

Awal mulanya, Otoritas Layanan Keuangan OJK mencatat jika sekitar. 227 perusahaan pinjam meminjam uang berbasiskan tehnologi (fintech peer-to-peer lending) beroperasi dengan ilegal di Indonesia. Sesaat yang telah tercatat serta memperoleh izin dari OJK baru 63 perusahaan.

Ketua Unit Pekerjaan Siaga Investigasi OJK, Tongam L Tobing menjelaskan, dari keseluruhan. 227 fintech ilegal itu, sejumlah besar ada dibawah developer China. Meskipun begitu, ia tidak menyebutkan dengan persis berapakah jumlahnya fintech ilegal asal China.